Appointment Book

Kamis, 07 Februari 2013

KELANGSUNGAN HIDUP MAKHLUK HIDUP

Setiap makhluk hidup mempunyai kemampuan dan bertahan
hidup yang berbeda-beda. Ada makhluk hidup yang jumlahnya terus
berkurang, karena lingkungan sekitar tidak melindunginya dari
hewan pemangsa. Selain itu, ada makhluk hidup yang mempunyai
keturunan dengan jumlah banyak, sedangkan makhluk hidup lainnya
mempunyai keturunan yang sedikit. Mengapa hal itu terjadi?
Setiap makhluk hidup selalu berusaha untuk mempertahankan
kelangsungan hidupnya. Suatu jenis makhluk hidup dapat hidup
lestari pada suatu lingkungan karena berbagai hal. Misalnya, jenis
makhluk hidup tersebut dapat menyesuaikan diri atau berdaptasi
terhadap lingkungannya, dapat lolos dari seleksi alam, dan dapat
berkembang biak.A. ADAPTASI MAKHLUK HIDUP
Setiap makhluk hidup mempunyai kemampuan untuk
menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Jika makhluk hidup tidak
bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya, makhluk hidup
tersebut dapat punah. Sebagai contoh, jika ayam dipindah ke air
lama-kelamaan akan mati karena tidak dapat menyesuaikan diri
dengan lingkungan berair. Jadi, adaptasi adalah kemampuan
makhluk untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Kemampuan adaptasi sangat berkaitan dengan kelangsungan
hidup. Makin besar kemampuan beradaptasi, makin besar kemungkinan
bertahan hidup. Dengan kemampuan adaptasi yang besar,
suatu jenis makhluk hidup dapat menempati habitat yang beragam.
Manusia merupakan contoh jenis makhluk hidup yang
mempunyai kemampuan yang besar dalam beradaptasi. Hampir
semua habitat dihuni oleh manusia. Dari pantai hingga pegunungan
yang tinggi, dari hutan tropis yang yang panas dan lembap sampai
gurun pasir yang kering dan panas, serta daerah kutub yang dingin.
Secara garis besar adaptasi makhluk hidup dibedakan
menjadi tiga, yaitu adaptasi morfologi, adaptasi fisiologi, dan
adaptasi perilaku.1. Adaptasi Morfologi
Adaptasi morfologi merupakan bentuk adaptasi pada
makhluk hidup yang paling mudah kita kenal. Sebab adaptasi
morfologi berkaitan dengan bentuk tubuh organ tubuh bagian luar.
Berbagai contoh adaptasi morfologi sebagai berikut.
a. Adaptasi morfologi pada paruh burung
Apa jenis makanan berbagai macam burung (unggas) yang
ada di sekitarmu? Kalau kita amati, ada burung yang memakan bijibijian,
ada yang memakan serangga, ada yang memakan daging, dan
ada yang mengisap madu. Untuk mengambil makanan dari
lingkungannya, burung memerlukan paruh yang sesuai dengan
makanannya.
Bentuk paruh burung nuri pendek dan kuat, sesuai dengan
makanannya yang berupa biji-bijian. Bentuk paruh burung elang
runcing agak panjang dan ujung paruh atas agak membengkok ke
bawah. Bentuk paruh seperti itu cocok untuk merobek daging.
Bentuk paruh burung pelikan panjang, lebar, dan agak berkantong.
Hal itu disesuaikan dengan jenis makanannya yang licin, misalnya
ikan. Bentuk paruh burung kolibri khas sekali sebagai pengisap
madu, yaitu kecil, runcing, dan panjang. Aneka ragam bentuk penuh
burung sesuai dengan jenis makanan itulah yang merupakan bentuk
adaptasi marfologi.b. Adaptasi morfologi pada kaki burung
Selain dapat dilihat dari bentuk paruhnya, adaptasi morfologi
pada burung juga dapat dilihat dari bentuk kakinya. Ada kaki burung
petengger, kaki burung pemanjat, kaki burung perenang, dan ada
pula kaki burung pencengkeram. Dapatkah kamu menyebutkan
bentuk kaki burung lainnya? Pada umumnya burung petengger
mempunyai jari kaki panjang dan semua jari terletak pada satu
bidang datar. Bentuk kaki seperti itu cocok untuk hinggap pada
ranting-ranting pohon yang kecil, contohnya burung kutilang. Kaki
burung pemanjat mempunyai dua jari ke depan dan dua jari ke
belakang, misalnya kaki burung pelatuk. Kaki burung perenang,
terdapat selaput renang di antara jari-jarinya. Burung yang biasa
berenang, misalnya angsa, itik, pinguin, dan pelikan. Kaki burung
pencengkram mempunyai ukuran yang pendek dan cakarnya sangat tajam. Jika sedang mencengkram mangsa, jari depannya dapat
diputar ke belakang. Burung yang mempunyai kaki seperti itu,
misalnya burung elang, rajawali, dan burung hantu.c. Adaptasi morfologi pada mulut serangga
Adaptasi morfologi pada serangga dapat kita lihat pada tipe
mulutnya. Bagian mulut serangga pada dasarnya terdiri atas satu
bibir atas (labrum), sepasang rahang (mandibula), satu hipofaring,
sepasang maksila, dan satu bibir bawah (labium). Pada belalang,
jangkrik, dan kecoa mulutnya dilengkapi dengan rahang atas dan
rahang bawah yang sangat kuat. Tipe mulut seperti pada serangga
tersebut dinamakan tipe mulut penggigit. Kutu dan nyamuk
mulutnya mempunyai rahang yang panjang dan runcing, sehingga
memungkinkan untuk menusuk kulit manusia atau hewan lain. Tipe
mulut seperti itu dinamakan tipe mulut penusuk-pengisap. Kupukupu
mulutnya dilengkapi dengan alat, seperti belalai yang panjang
dan dapat digulung. Tipe mulut seperti pada kupu-kupu tersebut
dinamakan tipe mulut pengisap. Lebah madu dan lalat mulutnya
dilengkapi dengan alat untuk menjilat atau bibir. Tipe mulut seperti
itu disebut tipe mulut pengisap-penjilat.2. Adaptasi Fisiologi
Berbeda dengan adaptasi morfologi yang tampak dari luar diri
makhluk hidup, adaptasi fisiologi tidak begitu tampak sehingga sulit
mengenalinya. Hal ini karena berkaitan dengan fungsi organ tubuh
bagian dalam Beberapa contoh adaptasi fisiologi pada makhluk
hidup sebagai berikut.
a. Adaptasi terhadap kadar oksigen
Oksigen merupakan zat yang sangat diperlukan makhluk
hidup untuk pernapasan. Oleh karena itu, perubahan kadar zat
tersebut di lingkungan akan sangat memengaruhi aktivitas organ
tubuh.
Di berbagai tempat dengan ketinggian yang berbeda, kadar
oksigennya akan berbeda. Kadar oksigen di dataran rendah cukup
tinggi. Makin tinggi suatu tempat, kadar oksigennya makin rendah.
Apa yang akan terjadi, jika seseorang berpindah dari dataran rendah
ke dataran tinggi atau sebaliknya? Ingatlah bahwa oksigen dari alat
pernapasan akan diangkut ke sel-sel tubuh oleh sel darah merah
(eritrosit). Di dataran rendah kadar oksigen udara cukup tinggi
sehingga absorbsi oksigen oleh pembuluh kapiler dapat berlangsung
secara efektif dengan jumlah eritrosit yang normal. Apa yang akan
terjadi jika orang yang jumlah eritrositnya normal pindah ke dataran
tinggi yang kadar oksigennya rendah? Karena yang bertugas
mengangkut oksigen di dalam tubuh adalah eritrosit, tubuh akan
beradaptasi secara fisiologis dengan meningkatkan jumlah eritrosit
(sel darah merah). Dengan demikian, pengikatan oksigen di dalam
alat pernapasan dapat berjalan efektif.
b. Adaptasi pada sistem pencernaan
Pernahkah kamu melihat saluran pencernaan herbivora,
misalnya sapi? Saluran pencernaan herbivora panjang dan menghasilkan
enzim selulase yang dapat menguraikan selulosa. Dengan
adanya selulase, pencernaan makanan yang berupa tumbuhan menjadi
lebih mudah. Ingatlah, sel tumbuhan mempunyai dinding yang
kuat, yang sulit untuk dicerna hewan.
Adaptasi fisiologi pada sistem pencernaan juga terjadi pada
cacing Teredo navalis (hewan semacam kerang pengebor). Hewan
ini sering disebut cacing kapal karena perusak kayu galangan kapal.
Teredo navalis muda yang baru menetas mempunyai sepasang
cangkok. Pada tepi cangkok terdapat gigi mirip kikir yang berfungsi
mengebor kayu. Setelah dewasa, Teredo navalis menjadi makhluk
mirip cacing. Pada saluran pencernaannya terdapat kelanjar yang
mampu menghasilkan enzim selulase. Dengan enzim itulah kayukayu
yang telah dilumatkan dengan gigi kikirnya dapat dicernakan.c. Adaptasi ikan terhadap salinitas (kadar garam)
Di alam terdapat dua macam perairan yang berbeda kadar
garamnya, yaitu perairan laut dan perairan tawar. Air laut mempunyai
kadar garam yang lebih tinggi daripada air tawar. Ikan yang
hidup di air laut dan air tawar masing-masing memiliki cara adaptasi
yang khusus. Ikan air laut tidak dapat bertahan hidup, jika dipindahkan
ke air tawar, demikian pula sebaliknya.
Ikan air laut mempunyai cairan tubuh berkadar garam lebih
rendah dibandingkan kadar garam di lingkungannya. Ikan tersebut
beradaptasi dengan cara selalu minum dan mengeluarkan urine
sangat sedikit. Hal itu bertujuan untuk menjaga jumlah cairan yang
berada di sel-sel tubuhnya. Garam yang masuk bersama air akan
dikeluarkan secara aktif melalui insang. Tekanan osmosis sel-sel
tubuh ikan air tawar lebih tinggi dibandingkan tekanan osmosis air
di lingkungannya, karena kadar garam sel tubuh ikan air tawar lebih
tinggi daripada kadar garam air lingkungannya. Menurut hukum
osmosis, larutan akan berpindah dari yang bertekanan osmosis
rendah (encer) ke larutan yang bertekanan osmosis tinggi (pekat).
Dengan demikian banyak air yang masuk ke tubuh ikan melalui selsel
tubuh ikan. Untuk menjaga agar cairan tubuhnya tetap
seimbang, ikan tersebut beradaptasi dengan cara sedikit minum dan
mengeluarkan banyak urine.Mengapa ikan mas atau katak tidak mampu hidup di air laut,
sebaliknya paus tidak mampu berada di kolam air tawar? Tekanan
osmosis di dalam sel-sel tubuh ikan air tawar jauh lebih rendah
dibanding tekanan osmosis lingkungan air laut. Akibatnya, apabila
ikan air tawar dimasukkan ke air laut, bentuk preadaptasinya adalah
minum air sebanyak-banyaknya agar cairan di dalam sel-sel tubuh
yang keluar secara osmosis ke lingkungan dapat teratasi. Namun
hal ini akan sulit terus dilakukan karena apabila tekanan osmosis
cairan di dalam sel-sel tubuh terlalu rendah sel-sel tubuh akan
mengerut sehingga ikan air tawar tersebut mati.3. Adaptasi Tingkah laku (adaptasi behavioral)
Adaptasi tingkah laku mudah kita amati karena berupa
perubahan tingkah laku untuk menyesuaikan lingkungannya agar
tetap terjaga kelangsungan hidupnya. Beberapa contoh adaptasi
tingkah laku sebagai berikut.
a. Mimikri
Bunglon mengelabuhi musuhnya dengan mengubah warna
kulitnya. Jika berada di dedaunan, warna kulit bunglon menjadi
hijau. Sebaliknya, apabila berada di tanah, warna kulit bunglon
menjadi seperti tanah (kecokelatan). Perubahan warna kulit sesuai
warna lingkungannya seperti yang dilakukan oleh bunglon tersebut
dinamakan mimikri.
b. Autotomi
Cecak merupakan contoh hewan yang ekornya mudah
putus. Dalam keadaan bahaya, cecak mengelabui musuhnya dengan
cara memutuskan ekornya disebut autotomi. Jika seekor cecak
dikejar oleh pemangsa, ekornya secara mendadak putus dan bergerak-
gerak sehingga perhatian pemangsa akan tertuju pada ekor
yang bergerak tersebut. Kesempatan itu digunakan cecak untuk
menghindarkan diri dari kejaran pemangsa.
c. Hibernasi
Musim dingin adalah musim yang sangat sulit bagi hewan.
Banyak hewan yang tidak dapat bertahan hidup pada musim yang
keras ini. Beberapa hewan melewatinya dengan tetap giat mencari
makan. Sementara itu hewan yang lain bertahan hidup dengan
terlelap dalam suatu tidur khusus yang dinamakan hibernasi. Ciriciri
hewan yang melakukan hibernasi, yaitu suhu tubuh rendah serta
detak jantung dan pernapasan sangat lambat. Tujuannya untuk
menghindari cuaca yang sangat dingin, kekurangan makanan, dan
menghemat energi. Contoh hewan yang melakukan hibernasi antara
lain ular, kura-kura, ikan, dan bengkarung yang tetap tinggal di
sarangnya selama musim dingin.
d. Estivasi
Di beberapa belahan dunia, cuaca yang paling buruk adalah
cuaca pada musim panas. Pada musim panas, udara sangat panas
dan kering. Beberapa hewan bergerak mencari tempat perlindungan
dan tidur. Tidur di musim panas disebut estivasi. Kata ini berasal
dari kata latin yang berarti musim panas. Tujuan hewan melakukan
estivasi adalah untuk menghindari panas yang tinggi dan kekurangan
air. Lemur kerdil, kelelawar, dan beberapa tupai adalah mamalia
yang berestivasi untuk menghindari cuaca kering.
Jenis tanaman jahe-jahean dan rerumputan melakukan
estivasi di musim kemarau dengan mengeringkan dedaunannya.
Adapun, pohon jati melakukan estivasi di musim kering dengan
menggugurkan seluruh daunnya. Hibernasi dan estivasi, keduanya,disebut dormansi. Jadi, dormansi merupakan masa istirahat bagi
makhluk hidup untuk tetap bertahan pada cuaca yang buruk.
e. Adaptasi tingkah laku pada rayap
Rayap adalah golongan serangga penghancur kayu. Mengapa
rayap dengan mudah dapat mencerna kayu? Rayap mampu mencerna
kayu bukan karena mempunyai enzim yang dapat mencerna
kayu, melainkan karena di dalam ususnya terdapat hewan flagellata
yang mampu mencernakan kayu. Hewan flagellata mampu menghasilkan
enzim selulose.
Secara periodik, rayap mengalami pengelupasan kulit. Pada
saat kulit mengelupas, usus bagian belakang ikut terkelupas, sehingga
flagellata turut terbawa oleh usus. Untuk mendapatkan kembali
flagellata tersebut, rayap biasanya memakan kembali kelupasan
kulitnya (Gambar 4.10). Berbeda dengan rayap dewasa, rayap yang
baru menetas suka menjilati dubur rayap dewasa untuk mendapatkan
flagellata.
f. Adaptasi tingkah laku pada mamalia air
Hewan vertebrata dari golongan mamalia dan reptilia yang
hidup di dalam air tetap bernapas dengan paru-paru. Hal itu tampak
jelas pada cara bernapasnya, misalnya paus. Setiap saat paus
muncul ke permukaan air untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya
sampai paru-parunya penuh sekali, yaitu sekitar 3.350 liter.
Setelah itu, paus akan menyelam kembali ke dalam air. Dengan
udara sebanyak itu, paus mampu bertahan selama kira-kira setengah
jam di dalam air. Pada saat muncul kembali di permukaan
air, hasil oksidasi biologi dihembuskan melalui lubang hidung, seperti
pancaran air mancur. Sisa oksidasi ini berupa karbon dioksida
yang jenuh dengan uap air yang telah mengalami pengembunan
(kondensasi).
Untuk lebih memahami adaptasi tingkah laku makhluk hidup,
lakukan kegiatan berikut secara berkelompok. Sebelumnya, bentuklah
satu kelompok yang terdiri atas 4 siswa; 2 laki-laki dan 2
perempuan.B. SELEKSI ALAM Tujuan Pembelajaran
Alam selalu mengalami perubahan yang disebabkan oleh
bencana alam, keadaan suhu yang terlalu dingin atau panas,
pergantian musim, dan sebagainya. Adanya perubahan kondisi alam
tersebut menuntut makhluk hidup untuk melakukan adaptasi.
Masih ingatkah kamu, apa tujuan adaptasi? Tidak semua makhluk
hidup mempunyai kemampuan adaptasi yang sama. Akibatnya, ada
makhluk hidup yang dapat bertahan hidup, namun ada pula yang
musnah karena tidak mampu bertahan hidup.
Selain dipengaruhi oleh perubahan alam, kehidupan makhluk
hidup di muka bumi ini juga dipengaruhi oleh ketersediaan makanan,
parasit, pemangsa, wabah penyakit, dan sebagainya. Suatu jenis
makhluk hidup akan selalu berusaha untuk mempertahankan hidupnya
sehingga sering kali terjadi persaingan antarmakhluk hidup.
Makhluk hidup yang kuat akan menang dan bertahan, sedangkan
mahluk hidup yang lemah akan kalah dan mati atau menyingkir ke
tempat lain. Makhluk hidup yang menyingkir ke tempat yang baru
tetap hidup, jika mampu beradaptasi. Sebaliknya makhluk itu akan
mati, jika tidak mampu beradaptasi.
Uraian di atas memberikan gambaran bahwa alam seolaholah
melakukan seleksi terhadap makhluk hidup yang ada di
dalamnya. Hanya makhluk hidup yang dapat menyesuaikan diri
terhadap kondisi lingkungan baru yang dapat hidup, sedangkan
yang tidak dapat menyesuaikan diri akan mati. Jadi, seleksi alam
adalah proses pemilihan atau penyeleksian yang dilakukan oleh alam
terhadap makhluk hidup yang dapat beradaptasi karena adanya
perubahan-perubahan alam.
Seleksi alam juga terjadi pada setiap tahap kehidupan makhluk
hidup, yaitu pada saat makhluk hidup belum mencapai masa
reproduksi (masih muda), pada saat masa reproduksi (dalam mencari
pasangan), atau pada masa pembuahan dan masa embrio. Dari
berbagai kemungkinan tersebut, seleksi yang berlangsung sebelum
reproduksi tampaknya yang paling mudah terjadi. Hal itu disebabkan
karena dengan ketidakmampuan makhluk hidup melakukan
reproduksi berarti tidak dapat mewariskan gen kepada keturunannya.
Contoh makhluk hidup yang telah punah karena seleksi alam
adalah dinosaurus. Hewan tersebut telah punah sekitar 65 juta tahun
yang lalu. Perubahan alam yang terjadi secara terus-menerus dalam
jangka waktu yang lama menyebabkan makhluk tersebut tidak
mampu menyesuaikan diri dan akhirnya punah.Sekitar 100 juta tahun yang lalu, konon pernah terjadi hujan
meteor yang mematikan tumbuhan. Akibatnya semua hewan
pemakan tumbuhan (herbivora) musnah dan yang bertahan hidup
tinggallah hewan pemakan daging (karnivora) dan hewan pemakan
segala (omnivora). Hewan-hewan yang masih hidup tersebut akhirnya
secara terus-menerus melakukan persaingan, dan dinosaurus
yang menang adalah kelompok pemakan daging. Namun pada
akhirnya semua dinosaurus tersebut musnah dan dewasa ini kita
hanya dapat mengamati fosilnya.
Punahnya beberapa jenis makhluk hidup juga terjadi di
Indonesia, misalnya badak Jawa dan badak Sumatra. Punahnya
kedua jenis badak itu sebagian besar dikarenakan hilangnya hutan
dataran rendah dan perburuan. Pengobatan tradisional di Timur
Jauh (daratan Cina) masih banyak yang menggunakan bahan dasar
cula badak, juga berperan terhadap kepunahan badak.
Contoh lain peristiwa seleksi alam adalah keadaan populasi
kupu-kupu Biston betularia di Inggris sebelum revolusi industri
dan setelah revolusi industri. Di Inggris ada dua macam Biston
betularia, yaitu kupu-kupu bersayap cerah dan bersayap gelap.
Sebelum terjadi revolusi industri, populasi kupu-kupu bersayap
cerah lebih besar daripada kupu-kupu yang bersayap gelap. Adapun
setelah terjadi revolusi industri, populasi kupu-kupu bersayap cerah
lebih kecil daripada kupu-kupu yang bersayap gelap. Mengapa
dapat terjadi demikian? Menurut dugaan, hal itu dapat terjadi karena
sebelum revolusi industri lingkungan masih cerah, sehingga kupukupu
bersayap cerah lebih adaptif dari pada kupu-kupu bersayap
gelap. Sebaliknya, setelah revolusi industri keadaan lingkungan
lebih gelap oleh jelaga. Akibatnya kupu-kupu bersayap gelap lebih
adaptif terhadap lingkungannya sedangkan kupu-kupu bersayap
cerah tidak adaptif sehingga lebih mudah ditangkap oleh predator.C. PERKEMBANGBIAKAN
MAKHLUK HIDUP
Setiap makhluk hidup mempunyai usia yang terbatas dan
pada akhirnya akan mati. Banyak tanaman sayuran, seperti sawi,
kol, lobak, dan wortel hanya mempunyai masa hidup sekitar tiga
bulan. Hewan-hewan tertentu, seperti ayam, itik, dan unggas
lainnya mempunyai masa hidup yang lebih pendek dibanding dengan
hewan-hewan, seperti anjing, kucing, sapi dan harimau. Namun,
mengapa makhluk hidup tersebut dapat mempertahankan jenisnya?
1. Peranan Perkembangbiakan
Semua makhluk hidup mempunyai kemampuan berkembang
biak. Ada jenis makhluk hidup yang hanya berkembang biak satu
kali dalam masa hidupnya, seperti sawi, wortel, dan kol. Adapun
hewan yang hanya berkembang biak satu kali dalam masa hidupnya,
misalnya ikan sidat. Walaupun hanya mampu berkembang biak satu
kali dalam masa hidupnya, tumbuhan dan hewan tersebut dapat
mempertahankan jenisnya.
Sekarang ini banyak hewan dan tumbuhan yang hampir
mengalami kepunahan, misalnya burung elang jambul, cenderawasih,
harimau Jawa, badak bercula satu, beruang Bengkulu, dan
bunga Rafflesia arnolldi. Faktor-faktor yang menyebabkan hewan
dan tumbuhan mengalami kepunahan, yaitu daya regenerasi yang
rendah, terdesak oleh populasi lain (kalah bersaing), bencana alam,
dan gangguan manusia.
a. Daya regenerasi rendah
Hewan atau tumbuhan ada yang mampu menghasilkan
keturunan dalam jumlah banyak selama masa hidupnya, namun ada
pula yang hanya menghasilkan keturunan dalam jumlah sangat
sedikit. Badak menjadi dewasa pada umur sekitar 7 tahun dan dapat
mencapai umur 30 tahun. Badak hanya melahirkan satu ekor anak
setiap melakukan perkembangbiakan membutuhkan waktu 3,5
sampai 4 tahun. Rafflesia arnolldi juga mempunyai daya regenerasi
yang rendah, karena hanya dapat tumbuh pada umbi-umbian
tertentu. Beberapa jenis burung mempunyai masa hidup yang
singkat, sehingga keturunan yang dihasilkan dalam masa hidupnya
juga sedikit. Hal tersebut berarti daya regenerasinya juga rendah.b. Terdesak oleh populasi lain
Banyak hewan yang menggantungkan sumber makanan
yang sama, misalnya harimau dan srigala yang sama-sama makan
daging. Dua komponen ekosistem yang menggantungkan sumber
makanan yang sama akan menimbulkan persaingan antarkeduanya.
Komponen yang kalah bersaing akan berpindah tempat atau mati,
jika tidak mendapatkan sumber makanan lain.c. Gangguan manusia
Gangguan dari manusia terlihat pada perburuan hewanhewan
tertentu. Banyak orang memburu gajah untuk diambil
gadingnya atau memburu harimau untuk diambil kulitnya. Ada juga
orang yang memburu burung-burung berbulu indah atau hewanhewan
lain, hanya untuk pajangan di ruang tamu. Gangguan dari
manusia merupakan faktor terbesar yang dapat menyebabkan
kepunahan makhluk hidup. Kita seharusnya dapat bersikap lebih arif
dalam memanfaatkan sumber daya alam. Bagaimana sikap kalian?
2. Cara Perkembangbiakan
Makhluk hidup berkembang biak dengan berbagai cara.
Perkembangbiakan makhluk hidup dapat dikelompokkan menjadi
dua, yaitu perkembangbiakan vegetatif (reproduksi aseksual) dan
perkembangbiakan generatif (reproduksi seksual).
a. Perkembangbiakan vegetatif
Tumbuhan umbi-umbian, seperti kentang, ketela rambat,
dahlia, dan ubi berkembang biak dengan umbinya. Bawang merah
dan bawang putih berkembang biak dengan umbi lapis, sedangkan
pisang berkembang biak dengan tunas. Beberapa jenis mikroorganisme,
seperti Amoeba dan bakteri berkembang biak dengan
membelah diri. Pada prinsipnya, semua perkembangbiakan yang
tidak diawali adanya pertemuan antara sel kelamin jantan dan sel
kelamin betina, disebut perkembangbiakan vegetatif (reproduksi
aseksual).Jumlah induk yang terlibat dalam perkembangbiakan vegetatif
hanya satu. Oleh karena itu, individu baru yang dihasilkannya
mempunyai sifat yang sama dengan sifat induknya. Jadi, jika kamu
ingin memperbanyak tanaman dengan sifat yang sama dengan
induknya sebaiknya dilakukan dengan perkembangbiakan secara
vegetatif. Untuk lebih jelasnya, perhatikan Gambar 4.16.
b. Perkembangbiakan secara generatif
Perkembangbiakan secara generatif atau disebut juga perkembangbiakan
secara kawin adalah peristiwa terbentuknya individu
baru yang di dahului oleh pembuahan (fertilisasi). Pembuahan
adalah peleburan antara sel kelamin jantan dengan sel
kelamin betina. Hasil dari peleburan tersebut berupa zigot.
Organisme yang berkembangbiak secara kawin (generatif)
meliputi berbagai jenis vertebrata (ikan, katak, reptil, burung dan
mamalia) dan avertebrata, seperti cacing tanah, lebah, rayap,
udang, dan sebagainya.Perkembangbiakan secara generatif biasanya melibatkan dua
induk. Oleh karena itu, sifat keturunan hasil perkembangbiakan
tersebut merupakan gabungan dari sifat kedua induknya, sehingga
dapat bervariasi.Selain berkembang biak secara generatif atau vegetatif saja,
ada sebagian makhluk hidup berkembang biak secara keduanya.
Perkembangbiakan dengan cara generatif dan vegetatif amat jarang
terjadi pada hewan. Namun, pada beberapa jenis tumbuhan dapat
terjadi dengan kedua cara tersebut, misalnya lumut dan tumbuhan
hijau.Beberapa contoh makhluk hidup yang dapat melakukan perkembangbiakan
dengan cara generatif dan vegetatif sebagai berikut.
1) Hydra; secara generatif dengan membentuk ovarium dan testis,
secara vegetatif dapat membentuk tunas.
2) Lumut dan tumbuhan paku; secara generatif dengan membentuk
sperma dan ovum, secara vegetatif dengan membentuk spora.
3) Tumbuhan biji (mangga, jambu, dan jeruk) secara generatif dengan
membentuk biji dan secara vegetatif dengan cangkokSetiap makhluk hidup mempunyai kemampuan dan bertahan
hidup yang berbeda-beda. Ada makhluk hidup yang jumlahnya terus
berkurang, karena lingkungan sekitar tidak melindunginya dari
hewan pemangsa. Selain itu, ada makhluk hidup yang mempunyai
keturunan dengan jumlah banyak, sedangkan makhluk hidup lainnya
mempunyai keturunan yang sedikit. Mengapa hal itu terjadi?
Setiap makhluk hidup selalu berusaha untuk mempertahankan
kelangsungan hidupnya. Suatu jenis makhluk hidup dapat hidup
lestari pada suatu lingkungan karena berbagai hal. Misalnya, jenis
makhluk hidup tersebut dapat menyesuaikan diri atau berdaptasi
terhadap lingkungannya, dapat lolos dari seleksi alam, dan dapat
berkembang biak.A. ADAPTASI MAKHLUK HIDUP
Setiap makhluk hidup mempunyai kemampuan untuk
menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Jika makhluk hidup tidak
bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya, makhluk hidup
tersebut dapat punah. Sebagai contoh, jika ayam dipindah ke air
lama-kelamaan akan mati karena tidak dapat menyesuaikan diri
dengan lingkungan berair. Jadi, adaptasi adalah kemampuan
makhluk untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Kemampuan adaptasi sangat berkaitan dengan kelangsungan
hidup. Makin besar kemampuan beradaptasi, makin besar kemungkinan
bertahan hidup. Dengan kemampuan adaptasi yang besar,
suatu jenis makhluk hidup dapat menempati habitat yang beragam.
Manusia merupakan contoh jenis makhluk hidup yang
mempunyai kemampuan yang besar dalam beradaptasi. Hampir
semua habitat dihuni oleh manusia. Dari pantai hingga pegunungan
yang tinggi, dari hutan tropis yang yang panas dan lembap sampai
gurun pasir yang kering dan panas, serta daerah kutub yang dingin.
Secara garis besar adaptasi makhluk hidup dibedakan
menjadi tiga, yaitu adaptasi morfologi, adaptasi fisiologi, dan
adaptasi perilaku.1. Adaptasi Morfologi
Adaptasi morfologi merupakan bentuk adaptasi pada
makhluk hidup yang paling mudah kita kenal. Sebab adaptasi
morfologi berkaitan dengan bentuk tubuh organ tubuh bagian luar.
Berbagai contoh adaptasi morfologi sebagai berikut.
a. Adaptasi morfologi pada paruh burung
Apa jenis makanan berbagai macam burung (unggas) yang
ada di sekitarmu? Kalau kita amati, ada burung yang memakan bijibijian,
ada yang memakan serangga, ada yang memakan daging, dan
ada yang mengisap madu. Untuk mengambil makanan dari
lingkungannya, burung memerlukan paruh yang sesuai dengan
makanannya.
Bentuk paruh burung nuri pendek dan kuat, sesuai dengan
makanannya yang berupa biji-bijian. Bentuk paruh burung elang
runcing agak panjang dan ujung paruh atas agak membengkok ke
bawah. Bentuk paruh seperti itu cocok untuk merobek daging.
Bentuk paruh burung pelikan panjang, lebar, dan agak berkantong.
Hal itu disesuaikan dengan jenis makanannya yang licin, misalnya
ikan. Bentuk paruh burung kolibri khas sekali sebagai pengisap
madu, yaitu kecil, runcing, dan panjang. Aneka ragam bentuk penuh
burung sesuai dengan jenis makanan itulah yang merupakan bentuk
adaptasi marfologi.b. Adaptasi morfologi pada kaki burung
Selain dapat dilihat dari bentuk paruhnya, adaptasi morfologi
pada burung juga dapat dilihat dari bentuk kakinya. Ada kaki burung
petengger, kaki burung pemanjat, kaki burung perenang, dan ada
pula kaki burung pencengkeram. Dapatkah kamu menyebutkan
bentuk kaki burung lainnya? Pada umumnya burung petengger
mempunyai jari kaki panjang dan semua jari terletak pada satu
bidang datar. Bentuk kaki seperti itu cocok untuk hinggap pada
ranting-ranting pohon yang kecil, contohnya burung kutilang. Kaki
burung pemanjat mempunyai dua jari ke depan dan dua jari ke
belakang, misalnya kaki burung pelatuk. Kaki burung perenang,
terdapat selaput renang di antara jari-jarinya. Burung yang biasa
berenang, misalnya angsa, itik, pinguin, dan pelikan. Kaki burung
pencengkram mempunyai ukuran yang pendek dan cakarnya sangat tajam. Jika sedang mencengkram mangsa, jari depannya dapat
diputar ke belakang. Burung yang mempunyai kaki seperti itu,
misalnya burung elang, rajawali, dan burung hantu.c. Adaptasi morfologi pada mulut serangga
Adaptasi morfologi pada serangga dapat kita lihat pada tipe
mulutnya. Bagian mulut serangga pada dasarnya terdiri atas satu
bibir atas (labrum), sepasang rahang (mandibula), satu hipofaring,
sepasang maksila, dan satu bibir bawah (labium). Pada belalang,
jangkrik, dan kecoa mulutnya dilengkapi dengan rahang atas dan
rahang bawah yang sangat kuat. Tipe mulut seperti pada serangga
tersebut dinamakan tipe mulut penggigit. Kutu dan nyamuk
mulutnya mempunyai rahang yang panjang dan runcing, sehingga
memungkinkan untuk menusuk kulit manusia atau hewan lain. Tipe
mulut seperti itu dinamakan tipe mulut penusuk-pengisap. Kupukupu
mulutnya dilengkapi dengan alat, seperti belalai yang panjang
dan dapat digulung. Tipe mulut seperti pada kupu-kupu tersebut
dinamakan tipe mulut pengisap. Lebah madu dan lalat mulutnya
dilengkapi dengan alat untuk menjilat atau bibir. Tipe mulut seperti
itu disebut tipe mulut pengisap-penjilat.2. Adaptasi Fisiologi
Berbeda dengan adaptasi morfologi yang tampak dari luar diri
makhluk hidup, adaptasi fisiologi tidak begitu tampak sehingga sulit
mengenalinya. Hal ini karena berkaitan dengan fungsi organ tubuh
bagian dalam Beberapa contoh adaptasi fisiologi pada makhluk
hidup sebagai berikut.
a. Adaptasi terhadap kadar oksigen
Oksigen merupakan zat yang sangat diperlukan makhluk
hidup untuk pernapasan. Oleh karena itu, perubahan kadar zat
tersebut di lingkungan akan sangat memengaruhi aktivitas organ
tubuh.
Di berbagai tempat dengan ketinggian yang berbeda, kadar
oksigennya akan berbeda. Kadar oksigen di dataran rendah cukup
tinggi. Makin tinggi suatu tempat, kadar oksigennya makin rendah.
Apa yang akan terjadi, jika seseorang berpindah dari dataran rendah
ke dataran tinggi atau sebaliknya? Ingatlah bahwa oksigen dari alat
pernapasan akan diangkut ke sel-sel tubuh oleh sel darah merah
(eritrosit). Di dataran rendah kadar oksigen udara cukup tinggi
sehingga absorbsi oksigen oleh pembuluh kapiler dapat berlangsung
secara efektif dengan jumlah eritrosit yang normal. Apa yang akan
terjadi jika orang yang jumlah eritrositnya normal pindah ke dataran
tinggi yang kadar oksigennya rendah? Karena yang bertugas
mengangkut oksigen di dalam tubuh adalah eritrosit, tubuh akan
beradaptasi secara fisiologis dengan meningkatkan jumlah eritrosit
(sel darah merah). Dengan demikian, pengikatan oksigen di dalam
alat pernapasan dapat berjalan efektif.
b. Adaptasi pada sistem pencernaan
Pernahkah kamu melihat saluran pencernaan herbivora,
misalnya sapi? Saluran pencernaan herbivora panjang dan menghasilkan
enzim selulase yang dapat menguraikan selulosa. Dengan
adanya selulase, pencernaan makanan yang berupa tumbuhan menjadi
lebih mudah. Ingatlah, sel tumbuhan mempunyai dinding yang
kuat, yang sulit untuk dicerna hewan.
Adaptasi fisiologi pada sistem pencernaan juga terjadi pada
cacing Teredo navalis (hewan semacam kerang pengebor). Hewan
ini sering disebut cacing kapal karena perusak kayu galangan kapal.
Teredo navalis muda yang baru menetas mempunyai sepasang
cangkok. Pada tepi cangkok terdapat gigi mirip kikir yang berfungsi
mengebor kayu. Setelah dewasa, Teredo navalis menjadi makhluk
mirip cacing. Pada saluran pencernaannya terdapat kelanjar yang
mampu menghasilkan enzim selulase. Dengan enzim itulah kayukayu
yang telah dilumatkan dengan gigi kikirnya dapat dicernakan.c. Adaptasi ikan terhadap salinitas (kadar garam)
Di alam terdapat dua macam perairan yang berbeda kadar
garamnya, yaitu perairan laut dan perairan tawar. Air laut mempunyai
kadar garam yang lebih tinggi daripada air tawar. Ikan yang
hidup di air laut dan air tawar masing-masing memiliki cara adaptasi
yang khusus. Ikan air laut tidak dapat bertahan hidup, jika dipindahkan
ke air tawar, demikian pula sebaliknya.
Ikan air laut mempunyai cairan tubuh berkadar garam lebih
rendah dibandingkan kadar garam di lingkungannya. Ikan tersebut
beradaptasi dengan cara selalu minum dan mengeluarkan urine
sangat sedikit. Hal itu bertujuan untuk menjaga jumlah cairan yang
berada di sel-sel tubuhnya. Garam yang masuk bersama air akan
dikeluarkan secara aktif melalui insang. Tekanan osmosis sel-sel
tubuh ikan air tawar lebih tinggi dibandingkan tekanan osmosis air
di lingkungannya, karena kadar garam sel tubuh ikan air tawar lebih
tinggi daripada kadar garam air lingkungannya. Menurut hukum
osmosis, larutan akan berpindah dari yang bertekanan osmosis
rendah (encer) ke larutan yang bertekanan osmosis tinggi (pekat).
Dengan demikian banyak air yang masuk ke tubuh ikan melalui selsel
tubuh ikan. Untuk menjaga agar cairan tubuhnya tetap
seimbang, ikan tersebut beradaptasi dengan cara sedikit minum dan
mengeluarkan banyak urine.Mengapa ikan mas atau katak tidak mampu hidup di air laut,
sebaliknya paus tidak mampu berada di kolam air tawar? Tekanan
osmosis di dalam sel-sel tubuh ikan air tawar jauh lebih rendah
dibanding tekanan osmosis lingkungan air laut. Akibatnya, apabila
ikan air tawar dimasukkan ke air laut, bentuk preadaptasinya adalah
minum air sebanyak-banyaknya agar cairan di dalam sel-sel tubuh
yang keluar secara osmosis ke lingkungan dapat teratasi. Namun
hal ini akan sulit terus dilakukan karena apabila tekanan osmosis
cairan di dalam sel-sel tubuh terlalu rendah sel-sel tubuh akan
mengerut sehingga ikan air tawar tersebut mati.3. Adaptasi Tingkah laku (adaptasi behavioral)
Adaptasi tingkah laku mudah kita amati karena berupa
perubahan tingkah laku untuk menyesuaikan lingkungannya agar
tetap terjaga kelangsungan hidupnya. Beberapa contoh adaptasi
tingkah laku sebagai berikut.
a. Mimikri
Bunglon mengelabuhi musuhnya dengan mengubah warna
kulitnya. Jika berada di dedaunan, warna kulit bunglon menjadi
hijau. Sebaliknya, apabila berada di tanah, warna kulit bunglon
menjadi seperti tanah (kecokelatan). Perubahan warna kulit sesuai
warna lingkungannya seperti yang dilakukan oleh bunglon tersebut
dinamakan mimikri.
b. Autotomi
Cecak merupakan contoh hewan yang ekornya mudah
putus. Dalam keadaan bahaya, cecak mengelabui musuhnya dengan
cara memutuskan ekornya disebut autotomi. Jika seekor cecak
dikejar oleh pemangsa, ekornya secara mendadak putus dan bergerak-
gerak sehingga perhatian pemangsa akan tertuju pada ekor
yang bergerak tersebut. Kesempatan itu digunakan cecak untuk
menghindarkan diri dari kejaran pemangsa.
c. Hibernasi
Musim dingin adalah musim yang sangat sulit bagi hewan.
Banyak hewan yang tidak dapat bertahan hidup pada musim yang
keras ini. Beberapa hewan melewatinya dengan tetap giat mencari
makan. Sementara itu hewan yang lain bertahan hidup dengan
terlelap dalam suatu tidur khusus yang dinamakan hibernasi. Ciriciri
hewan yang melakukan hibernasi, yaitu suhu tubuh rendah serta
detak jantung dan pernapasan sangat lambat. Tujuannya untuk
menghindari cuaca yang sangat dingin, kekurangan makanan, dan
menghemat energi. Contoh hewan yang melakukan hibernasi antara
lain ular, kura-kura, ikan, dan bengkarung yang tetap tinggal di
sarangnya selama musim dingin.
d. Estivasi
Di beberapa belahan dunia, cuaca yang paling buruk adalah
cuaca pada musim panas. Pada musim panas, udara sangat panas
dan kering. Beberapa hewan bergerak mencari tempat perlindungan
dan tidur. Tidur di musim panas disebut estivasi. Kata ini berasal
dari kata latin yang berarti musim panas. Tujuan hewan melakukan
estivasi adalah untuk menghindari panas yang tinggi dan kekurangan
air. Lemur kerdil, kelelawar, dan beberapa tupai adalah mamalia
yang berestivasi untuk menghindari cuaca kering.
Jenis tanaman jahe-jahean dan rerumputan melakukan
estivasi di musim kemarau dengan mengeringkan dedaunannya.
Adapun, pohon jati melakukan estivasi di musim kering dengan
menggugurkan seluruh daunnya. Hibernasi dan estivasi, keduanya,disebut dormansi. Jadi, dormansi merupakan masa istirahat bagi
makhluk hidup untuk tetap bertahan pada cuaca yang buruk.
e. Adaptasi tingkah laku pada rayap
Rayap adalah golongan serangga penghancur kayu. Mengapa
rayap dengan mudah dapat mencerna kayu? Rayap mampu mencerna
kayu bukan karena mempunyai enzim yang dapat mencerna
kayu, melainkan karena di dalam ususnya terdapat hewan flagellata
yang mampu mencernakan kayu. Hewan flagellata mampu menghasilkan
enzim selulose.
Secara periodik, rayap mengalami pengelupasan kulit. Pada
saat kulit mengelupas, usus bagian belakang ikut terkelupas, sehingga
flagellata turut terbawa oleh usus. Untuk mendapatkan kembali
flagellata tersebut, rayap biasanya memakan kembali kelupasan
kulitnya (Gambar 4.10). Berbeda dengan rayap dewasa, rayap yang
baru menetas suka menjilati dubur rayap dewasa untuk mendapatkan
flagellata.
f. Adaptasi tingkah laku pada mamalia air
Hewan vertebrata dari golongan mamalia dan reptilia yang
hidup di dalam air tetap bernapas dengan paru-paru. Hal itu tampak
jelas pada cara bernapasnya, misalnya paus. Setiap saat paus
muncul ke permukaan air untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya
sampai paru-parunya penuh sekali, yaitu sekitar 3.350 liter.
Setelah itu, paus akan menyelam kembali ke dalam air. Dengan
udara sebanyak itu, paus mampu bertahan selama kira-kira setengah
jam di dalam air. Pada saat muncul kembali di permukaan
air, hasil oksidasi biologi dihembuskan melalui lubang hidung, seperti
pancaran air mancur. Sisa oksidasi ini berupa karbon dioksida
yang jenuh dengan uap air yang telah mengalami pengembunan
(kondensasi).
Untuk lebih memahami adaptasi tingkah laku makhluk hidup,
lakukan kegiatan berikut secara berkelompok. Sebelumnya, bentuklah
satu kelompok yang terdiri atas 4 siswa; 2 laki-laki dan 2
perempuan.B. SELEKSI ALAM Tujuan Pembelajaran
Alam selalu mengalami perubahan yang disebabkan oleh
bencana alam, keadaan suhu yang terlalu dingin atau panas,
pergantian musim, dan sebagainya. Adanya perubahan kondisi alam
tersebut menuntut makhluk hidup untuk melakukan adaptasi.
Masih ingatkah kamu, apa tujuan adaptasi? Tidak semua makhluk
hidup mempunyai kemampuan adaptasi yang sama. Akibatnya, ada
makhluk hidup yang dapat bertahan hidup, namun ada pula yang
musnah karena tidak mampu bertahan hidup.
Selain dipengaruhi oleh perubahan alam, kehidupan makhluk
hidup di muka bumi ini juga dipengaruhi oleh ketersediaan makanan,
parasit, pemangsa, wabah penyakit, dan sebagainya. Suatu jenis
makhluk hidup akan selalu berusaha untuk mempertahankan hidupnya
sehingga sering kali terjadi persaingan antarmakhluk hidup.
Makhluk hidup yang kuat akan menang dan bertahan, sedangkan
mahluk hidup yang lemah akan kalah dan mati atau menyingkir ke
tempat lain. Makhluk hidup yang menyingkir ke tempat yang baru
tetap hidup, jika mampu beradaptasi. Sebaliknya makhluk itu akan
mati, jika tidak mampu beradaptasi.
Uraian di atas memberikan gambaran bahwa alam seolaholah
melakukan seleksi terhadap makhluk hidup yang ada di
dalamnya. Hanya makhluk hidup yang dapat menyesuaikan diri
terhadap kondisi lingkungan baru yang dapat hidup, sedangkan
yang tidak dapat menyesuaikan diri akan mati. Jadi, seleksi alam
adalah proses pemilihan atau penyeleksian yang dilakukan oleh alam
terhadap makhluk hidup yang dapat beradaptasi karena adanya
perubahan-perubahan alam.
Seleksi alam juga terjadi pada setiap tahap kehidupan makhluk
hidup, yaitu pada saat makhluk hidup belum mencapai masa
reproduksi (masih muda), pada saat masa reproduksi (dalam mencari
pasangan), atau pada masa pembuahan dan masa embrio. Dari
berbagai kemungkinan tersebut, seleksi yang berlangsung sebelum
reproduksi tampaknya yang paling mudah terjadi. Hal itu disebabkan
karena dengan ketidakmampuan makhluk hidup melakukan
reproduksi berarti tidak dapat mewariskan gen kepada keturunannya.
Contoh makhluk hidup yang telah punah karena seleksi alam
adalah dinosaurus. Hewan tersebut telah punah sekitar 65 juta tahun
yang lalu. Perubahan alam yang terjadi secara terus-menerus dalam
jangka waktu yang lama menyebabkan makhluk tersebut tidak
mampu menyesuaikan diri dan akhirnya punah.Sekitar 100 juta tahun yang lalu, konon pernah terjadi hujan
meteor yang mematikan tumbuhan. Akibatnya semua hewan
pemakan tumbuhan (herbivora) musnah dan yang bertahan hidup
tinggallah hewan pemakan daging (karnivora) dan hewan pemakan
segala (omnivora). Hewan-hewan yang masih hidup tersebut akhirnya
secara terus-menerus melakukan persaingan, dan dinosaurus
yang menang adalah kelompok pemakan daging. Namun pada
akhirnya semua dinosaurus tersebut musnah dan dewasa ini kita
hanya dapat mengamati fosilnya.
Punahnya beberapa jenis makhluk hidup juga terjadi di
Indonesia, misalnya badak Jawa dan badak Sumatra. Punahnya
kedua jenis badak itu sebagian besar dikarenakan hilangnya hutan
dataran rendah dan perburuan. Pengobatan tradisional di Timur
Jauh (daratan Cina) masih banyak yang menggunakan bahan dasar
cula badak, juga berperan terhadap kepunahan badak.
Contoh lain peristiwa seleksi alam adalah keadaan populasi
kupu-kupu Biston betularia di Inggris sebelum revolusi industri
dan setelah revolusi industri. Di Inggris ada dua macam Biston
betularia, yaitu kupu-kupu bersayap cerah dan bersayap gelap.
Sebelum terjadi revolusi industri, populasi kupu-kupu bersayap
cerah lebih besar daripada kupu-kupu yang bersayap gelap. Adapun
setelah terjadi revolusi industri, populasi kupu-kupu bersayap cerah
lebih kecil daripada kupu-kupu yang bersayap gelap. Mengapa
dapat terjadi demikian? Menurut dugaan, hal itu dapat terjadi karena
sebelum revolusi industri lingkungan masih cerah, sehingga kupukupu
bersayap cerah lebih adaptif dari pada kupu-kupu bersayap
gelap. Sebaliknya, setelah revolusi industri keadaan lingkungan
lebih gelap oleh jelaga. Akibatnya kupu-kupu bersayap gelap lebih
adaptif terhadap lingkungannya sedangkan kupu-kupu bersayap
cerah tidak adaptif sehingga lebih mudah ditangkap oleh predator.C. PERKEMBANGBIAKAN
MAKHLUK HIDUP
Setiap makhluk hidup mempunyai usia yang terbatas dan
pada akhirnya akan mati. Banyak tanaman sayuran, seperti sawi,
kol, lobak, dan wortel hanya mempunyai masa hidup sekitar tiga
bulan. Hewan-hewan tertentu, seperti ayam, itik, dan unggas
lainnya mempunyai masa hidup yang lebih pendek dibanding dengan
hewan-hewan, seperti anjing, kucing, sapi dan harimau. Namun,
mengapa makhluk hidup tersebut dapat mempertahankan jenisnya?
1. Peranan Perkembangbiakan
Semua makhluk hidup mempunyai kemampuan berkembang
biak. Ada jenis makhluk hidup yang hanya berkembang biak satu
kali dalam masa hidupnya, seperti sawi, wortel, dan kol. Adapun
hewan yang hanya berkembang biak satu kali dalam masa hidupnya,
misalnya ikan sidat. Walaupun hanya mampu berkembang biak satu
kali dalam masa hidupnya, tumbuhan dan hewan tersebut dapat
mempertahankan jenisnya.
Sekarang ini banyak hewan dan tumbuhan yang hampir
mengalami kepunahan, misalnya burung elang jambul, cenderawasih,
harimau Jawa, badak bercula satu, beruang Bengkulu, dan
bunga Rafflesia arnolldi. Faktor-faktor yang menyebabkan hewan
dan tumbuhan mengalami kepunahan, yaitu daya regenerasi yang
rendah, terdesak oleh populasi lain (kalah bersaing), bencana alam,
dan gangguan manusia.
a. Daya regenerasi rendah
Hewan atau tumbuhan ada yang mampu menghasilkan
keturunan dalam jumlah banyak selama masa hidupnya, namun ada
pula yang hanya menghasilkan keturunan dalam jumlah sangat
sedikit. Badak menjadi dewasa pada umur sekitar 7 tahun dan dapat
mencapai umur 30 tahun. Badak hanya melahirkan satu ekor anak
setiap melakukan perkembangbiakan membutuhkan waktu 3,5
sampai 4 tahun. Rafflesia arnolldi juga mempunyai daya regenerasi
yang rendah, karena hanya dapat tumbuh pada umbi-umbian
tertentu. Beberapa jenis burung mempunyai masa hidup yang
singkat, sehingga keturunan yang dihasilkan dalam masa hidupnya
juga sedikit. Hal tersebut berarti daya regenerasinya juga rendah.b. Terdesak oleh populasi lain
Banyak hewan yang menggantungkan sumber makanan
yang sama, misalnya harimau dan srigala yang sama-sama makan
daging. Dua komponen ekosistem yang menggantungkan sumber
makanan yang sama akan menimbulkan persaingan antarkeduanya.
Komponen yang kalah bersaing akan berpindah tempat atau mati,
jika tidak mendapatkan sumber makanan lain.c. Gangguan manusia
Gangguan dari manusia terlihat pada perburuan hewanhewan
tertentu. Banyak orang memburu gajah untuk diambil
gadingnya atau memburu harimau untuk diambil kulitnya. Ada juga
orang yang memburu burung-burung berbulu indah atau hewanhewan
lain, hanya untuk pajangan di ruang tamu. Gangguan dari
manusia merupakan faktor terbesar yang dapat menyebabkan
kepunahan makhluk hidup. Kita seharusnya dapat bersikap lebih arif
dalam memanfaatkan sumber daya alam. Bagaimana sikap kalian?
2. Cara Perkembangbiakan
Makhluk hidup berkembang biak dengan berbagai cara.
Perkembangbiakan makhluk hidup dapat dikelompokkan menjadi
dua, yaitu perkembangbiakan vegetatif (reproduksi aseksual) dan
perkembangbiakan generatif (reproduksi seksual).
a. Perkembangbiakan vegetatif
Tumbuhan umbi-umbian, seperti kentang, ketela rambat,
dahlia, dan ubi berkembang biak dengan umbinya. Bawang merah
dan bawang putih berkembang biak dengan umbi lapis, sedangkan
pisang berkembang biak dengan tunas. Beberapa jenis mikroorganisme,
seperti Amoeba dan bakteri berkembang biak dengan
membelah diri. Pada prinsipnya, semua perkembangbiakan yang
tidak diawali adanya pertemuan antara sel kelamin jantan dan sel
kelamin betina, disebut perkembangbiakan vegetatif (reproduksi
aseksual).Jumlah induk yang terlibat dalam perkembangbiakan vegetatif
hanya satu. Oleh karena itu, individu baru yang dihasilkannya
mempunyai sifat yang sama dengan sifat induknya. Jadi, jika kamu
ingin memperbanyak tanaman dengan sifat yang sama dengan
induknya sebaiknya dilakukan dengan perkembangbiakan secara
vegetatif. Untuk lebih jelasnya, perhatikan Gambar 4.16.
b. Perkembangbiakan secara generatif
Perkembangbiakan secara generatif atau disebut juga perkembangbiakan
secara kawin adalah peristiwa terbentuknya individu
baru yang di dahului oleh pembuahan (fertilisasi). Pembuahan
adalah peleburan antara sel kelamin jantan dengan sel
kelamin betina. Hasil dari peleburan tersebut berupa zigot.
Organisme yang berkembangbiak secara kawin (generatif)
meliputi berbagai jenis vertebrata (ikan, katak, reptil, burung dan
mamalia) dan avertebrata, seperti cacing tanah, lebah, rayap,
udang, dan sebagainya.Perkembangbiakan secara generatif biasanya melibatkan dua
induk. Oleh karena itu, sifat keturunan hasil perkembangbiakan
tersebut merupakan gabungan dari sifat kedua induknya, sehingga
dapat bervariasi.Selain berkembang biak secara generatif atau vegetatif saja,
ada sebagian makhluk hidup berkembang biak secara keduanya.
Perkembangbiakan dengan cara generatif dan vegetatif amat jarang
terjadi pada hewan. Namun, pada beberapa jenis tumbuhan dapat
terjadi dengan kedua cara tersebut, misalnya lumut dan tumbuhan
hijau.Beberapa contoh makhluk hidup yang dapat melakukan perkembangbiakan
dengan cara generatif dan vegetatif sebagai berikut.
1) Hydra; secara generatif dengan membentuk ovarium dan testis,
secara vegetatif dapat membentuk tunas.
2) Lumut dan tumbuhan paku; secara generatif dengan membentuk
sperma dan ovum, secara vegetatif dengan membentuk spora.
3) Tumbuhan biji (mangga, jambu, dan jeruk) secara generatif dengan
membentuk biji dan secara vegetatif dengan cangkok

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar